
ASIKIN HASAN, Kurator Galeri Lontar
Asikin belajar seni mematung di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung dimana ia meriset "Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia." Ia pernah bekerja sebagai wartawan khusus liputan Jawa Barat untuk majalah Tempo. Artikel-artikelnya telah dimuat di berbagai jurnal termasuk "Art and Asia Pacific", sebuah jurnal seni rupa terbitan Sydney, Australia, serta The Jakarta Post dan Majalah Tempo. Pada Tahun 1997, Asikin dapat kesempatan untuk meneliti di beberapa museum, antara lain: The Pushkin Museum, Moscow; The Hermitage, St Petersburg, Russia, serta beberapa museum di Paris. Tahun 1998, ia mengikuti lokakarya kurator di Tokyo, Fukuoka, Hiroshima dan Kyoto disponsori oleh The Japan Foundation. Ia juga telah mengedit 2 buah buku, Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman. Asikin juga mengkurasi proyek "TRANSIT" New Media di Townsville, Brisbane, Darwin, Australia.

EKO ENDARMOKO, Anggota Tim Redaksi dan Sekretaris Penyunting Kalam
Moko belajar Sastra di Universitas Indonesia. Esai-esai dan kritiknya telah dimuat di berbagai media termasuk Basis, Horison, Kalam, Kompas, Sinar Harapan, Berita Buana, Berita Nasional, dan Suara Karya. Ia pernah menjabat sebagai redaktur di majalah Optimis (1983), Redaktur Pelaksana Berita Buku (Ikapi, Pusat, 1987-89), dan redaktur di penerbit Pustaka Utama Grafiti (1989-1997). Tahun 1996, ia menghadiri Frankfurt International Book Festival mewakili Pustaka Utama Grafiti. Ia mulai terlibat dalam Komunitas Utan Kayu pada tahun 1997 dan sekarang bekerja sebagai sekretaris penyunting majalah kebudayaan Kalam. Dia juga terlibat di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land- en Volkenkunde) Jakarta (1997-2003) sebagai penyunting buku. Pada akhir tahun 2006, ia telah merampungkan Tesaurus Bahasa Indonesia, yang diterbitkan oleh Gramedia.

HASIF AMINI, Penyunting Jurnal Kebudayaan Kalam dan Kurator Film
Pernah mengikuti AFS Intercultural Learning Program selama satu tahun di Selandia Baru (1988-89). Pada tahun 1992, dengan beberapa teman dia mendirikan Gorong-Gorong Budaya, sebuah kelompok diskusi dan penerbitan buku kebudayaan. Bersama Margaret dan Leon Agusta ia menerjemahkan dan menyunting kumpulan puisi The Poets’ Chant (1995) yang diterbitkan dalam rangka Istiqlal International Poetry Reading ’95. Ia menyunting kumpulan cerita pendek Para Pembohong (1996), menerjemahkan karya-karya Jorge Luis Borges dengan judul Labirin Impian (1999). Sekarang ia ketua redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam dan redaktur tamu rubrik puisi di Harian Kompas.

MOHAMAD GUNTUR ROMLI, Kurator Diskusi dan Penanggungjawab Website
Lahir di Situbondo, Jawa Timur, belajar di Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir dari tahun 1998 sampai akhir tahun 2004. Selama di Mesir, ia menjadi koresponden untuk Majalah Panji Masyarakat (2002-2003). Setelah Panji Masyarakat tutup, ia bergabung dengan Majalah Berita GATRA sebagai wartawan untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Selain menjadi kurator diskusi di Komunitas Utan Kayu, ia juga aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). Buku terjemahannya Menyongsong Yang Lain, Membela Pluralisme karya seorang penulis Koptik Mesir, Milad Hanna diterbitkan oleh Jaringan Islam Liberal tahun 2005. Bersama Moh Fawaid Syadzili menulis buku Dari Jihad Menuju Ijtihad (2003). Ia menulis agama, sastra dan politik Timur Tengah untuk sejumlah media cetak di Indonesia. Kumpulan kolomnya baru terbit "Ustadz, Saya Sudah di Surga" (KataKita, Agustus 2007)

NIRWAN DEWANTO, Manager Umum Teater Utan Kayu
Dia menulis ulasan sastra, seni rupa, seni panggung, dan kadang-kadang film di sejumlah koran, majalah, buletin, dan jurnal. Dalam 2 tahun terakhir, ia juga menyiarkan karya fiksi pada jurnal-jurnal Kalam dan Prosa. Ia pernah menjadi Ketua Redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam (1994-2003), dan sekarang Penjaga Lembar Seni Koran Tempo Edisi Minggu (sejak Juli 2002), dan anggota Dewan Redaksi Yayasan Lontar (sejak awal 2002) yang menerbitkan terjemahan Inggris karya-karya sastra Indonesia. Sejak 1996 ia ikut mengurus Teater Utan Kayu dan Galeri Lontar.
Pendidikan resminya tak berhubungan dengan seni: ia lulus dari Jurusan Geologi Fakultas Teknologi Mineral ITB (1987). Semasa kuliah ia memimpin Grup Apresiasi Sastra di kampusnya (1983-1985). Sampai akhir 1991 ia bekerja di bidang eksplorasi minyak dan gas bumi. Kemudian, ia meninggalkan sepenuhnya bidang geologi, dan "bekerja" di lapangan seni. Beberapa kali ia melakukan "kajian kesenian" di sejumlah lembaga riset luar negeri. Misalnya, ia pernah tinggal di University of Wisconsin, Madison sepanjang 1998-1999 sebagai peneliti/penulis tamu dengan sponsor Fulbright. Buku esainya “Senjakala Kebudayaan" (1996).

SITOK SRENGENGE, Kurator Teater dan Anggota Tim Redaksi Kalam
Lahir di Desa Dorolegi, sebuah perkampungan petani kecil dengan tradisi lisan yang kukuh, di pedalaman Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sembari kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta), ia belajar di Bengkel Teater pimpinan Rendra dan kursus filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Puisi-puisinya terbit dalam kumpulan Persetubuhan Liar merupakan antologi puisinya yang pertama (terbit tahun 1992 dan 1994), disusul Kelenjar Bekisar Jantan; Anak Jadah; dan Nonsens. Puisi-puisinya juga menjadi bagian buku The Poets’ Chant (Istiqlal International Poetry Reading, 1995), Chants of Nusantara (Sovia, Bulgaria, 1995), Dinamika Kaum Muda IPNU dan Tantangan Masa Depan (1997), Secrets Need Words (Ohio University, Ohio, USA, 2001) dan lainnya. Sejumlah ceritanya terbit dalam Para Pembohong (1996). Novel pertamanya terbit bersambung di harian Media Indonesia dengan judul Tidur, Cintaku, Tidur—yang kemudian ditulis ulang menjadi Menggarami Burung Terbang.
Kini, terutama, ia aktif di Komunitas Utan Kayu sebagai kurator merangkap koordinator program dan jaringan Teater Utan Kayu, juga redaktur jurnal kebudayaan Kalam; selain bekerja sebagai pemimpin redaksi jurnal Prosa dan ketua editor penerbit Metafor.

TONY PRABOWO, Kurator Musik dan Tari
Tony Prabowo adalah salah satu komposer Indonesia yang paling dikenal dan seorang penting dalam dunia musik modern Indonesia. Ia mulai belajar musik antara lain pada komposer Slamet Abdul Sjukur di Institut Kesenian Jakarta dan mendirikan the New Jakarta Ensemble pada 1996.
Tony telah bekerja sama dengan penari/koreografer, pelukis, penyair dan sutradara teater maupun film. Di panggung internasional, musik Tony Prabowo dipentaskan di Amerika, Eropa, Australia dan Korea Selatan. Di Amerika Serikat, hasil kerja sama Tony telah dipentaskan di New York International Festival of the Arts, Jacob’s Pillow Dance Festival, Lincoln Center, dan Tanglewood Festival (dengan Tan Dun). Karya dia sendiri telah dipentaskan oleh New Juilliard Ensemble, Seattle Creative Orchestra, ISI Yogyakarta Orchestra, Mannes Orchestra, Orchestra of the University of Newcastle-upon-Tyne, Deutsche Kammerphilharmonie Bremen, dan lain-lain.
Komposisinya yang mutakhir berpusat pada musik vokal. Karya operanya yang pertama, The King’s Witch (1999) dipentaskan di Alice Tully Hall, New York. Meditation on Lu Xun II (2000) adalah karya koor pertamanya, telah dibawakan oleh Paduan Suara Universitas Parahyangan. Tony juga pernah mendapat grant penting dari Meet the Composer, Ford Foundation dan Asian Cultural Council; yang terakhir ini untuk tinggal di New York dari Oktober 1997 hingga April 1998.