
Selamat Datang Tesaurus Bahasa Indonesia!
Akhirnya bahasa Indonesia punya kamus sinonim yang ditata dengan rapi. Dengan sekitar 16.000 lema, Tesaurus Bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko yang beredar sejak awal Desember 2006 akan sangat membantu setiap penulis menghasilkan karangan-karangan dengan bahasa Indonesia yang inovatif, atau pemakainya yang lain menemukan istilah yang tepat untuk suatu keperluan.
Mari menulis cabul. Anda harus mengulang kata ini sampai 50 kali dalam sebuah cerpen. Pasti membosankan! Lagi pula, pantang bagi seorang pengarang mengenal hanya satu kata untuk satu makna.
Namun, bahasa Indonesia miskin kosakata?
Ah, Anda saja yang malas mencari. Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta, misalnya, menyediakan paling sedikit sepuluh kata yang sepadan dengan cabul: cabo, cendala, dukana, gasang, jalang, jangak, lacur, lanji, lucah, dan sundal.
Betul, tapi kata-kata itu terpisah satu sama lain, sebagaimana lazimnya tersua dalam sejumlah kamus ekabahasa lain. Tak anda jumpai, misalnya, cendala pada lema dukana, atau gasang pada entri lacur, dan seterusnya.
Sekarang tak usah berpenat- penat memburu (sejumlah) sinonim kata-kata bahasa Indonesia dengan membolak-balik ratusan halaman kamus, atau menempuh jalan pintas membuka Kamus Indonesia-Inggris lalu melakukan langkah pendek menyerap kata-kata bahasa Inggris begitu saja, dengan gegabah pula. Awal Desember 2006 sebuah "kamus" bahasa Indonesia yang mendaftarkan padanan atau sinonim sekitar 16.000 kata dan kelompok kata terbit dan mulai beredar.
Dinamai Tesaurus Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, kamus sinonim ini merupakan buah tangan Eko Endarmoko, sekretaris redaksi jurnal kebudayaan Kalam yang pernah jadi mahasiswa ahli bahasa Anton M Moeliono di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di sana, hanya dengan sekali sapu, Anda dapat menemukan sinonim cabul sebagai amoral, asusila, carut, cemar, cendala, dursila, jangak, jorok, keji, kotor, lucah, mesum, porno, saru, vulgar; korup, nista, rendah (hal 107-108).
Tesaurus berasal dari kata thesauros dalam bahasa Gerika yang semula berarti ’gudang’, tetapi lama-kelamaan maknanya menggelembung. Salah satu yang dicatat banyak kamus, termasuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi III), ialah buku referensi berupa daftar kata dengan sinonimnya. Jadi, tesaurus adalah gudang tempat kata-kata—termasuk poliseminya—dan kelompok-kelompok kata bersandingan secara sistematis dengan segugus rekannya yang sepadan atau bermiripan makna. Jika kita mengenal suatu kata dan ingin mencari maknanya, bukalah kamus. Akan tetapi, jika kita mengetahui makna sesuatu tetapi ingin mencari kata yang tepat untuk makna itu, bukalah tesaurus. Jadi, dalam kerangka ini, kamus bertentangan dengan tesaurus.
Tesaurus Eko Endarmoko mendaftarkan sebanyak mungkin sinonim dari kata-kata dan kelompok-kelompok kata, tidak sampai pada bentuk bahasa lain seperti kesepadanan kalimat. Tiap lema dimulai dengan sinonim kata dasar, kemudian selalu diusahakan bila mungkin dilanjutkan dengan kata berimbuhan, dan kelompok kata yang bersesuaian.
Belajar dari Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (cetakan VIII, 1988) susunan Harimurti Kridalaksana dan Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia (edisi revisi, 2000) buah pena Nur Arifin Chaniago, yang mencatat sinonim atau antonim suatu kata tak urut abjad, Eko menata padan tiap-tiap kata (dasar dan berimbuhan) dan kelompok kata dengan urutan-urutan abjad yang tertib. Kenyang pada kamus Harimurti Kridalaksana berpadanan dengan berisi, penuh, puas, jenuh. Perhatikan: keempat sinonim itu diletakkan dari kiri ke kanan tidak dengan urut abjad. Kenyang pada tesaurus Eko Endarmoko (311) ini sinonim dengan 1. jelak, lugu, puas; 2. jenuh, penuh. Lugas pada kamus Nur Arifin Chaniago sepantar dengan polos, sederhana, bersahaja, lugu; pada tesaurus Eko Endarmoko (392) sinonim dengan 1. saklek; 2. banal, lugu, sederhana. Jadi, selain lebih tajam dan lebih lengkap, tesaurus Eko lebih rapi ketimbang kedua kamus sebelumnya.
Urutan abjad pada gugus sinonim itu tidak hanya berlaku pada lema kata dasar, tapi juga sublema kata berimbuhan [lema berlagu sekawan dengan berdendang, bergamat, bernyanyi, menyanyi, meragam (352)], bahkan sublema kelompok kata [lagu kalimat sinonim dengan aksen, intonasi, lentong, tekanan (352)]. Sebuah pekerjaan yang berdampingan dengan ketekunan yang laten!
Pada bagian "Tentang Tesaurus Ini" (xi) sang penyusun mengisahkan kejadian pertama mengenai penciptaan tesaurus ini. Adalah Anton M Moeliono, sebagai dosennya untuk mata kuliah semantik di Jurusan Sastra Indonesia pada paruh pertama dasawarsa 1980an, yang memintanya mencatatkan kata-kata dasar yang bersinonim. Rupanya pengaruh tugas kuliah selama enam bulan itu merasuki pembuluh-pembuluh kerjanya hingga menjadi sebuah impian untuk menuntaskan tesaurus pertama dalam bahasa Indonesia dan itu baru tergenapi di akhir tahun 2006.
Dengan masa kerja hampir 25 tahun oleh seorang diri, penyusunan tesaurus dengan sekitar 16.000 lema ini sungguh sumbangan yang sangat berharga bagi leksikografi sekaligus kebudayaan Indonesia. Bandingkan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikerjakan sebuah tim yang terdiri dari puluhan orang pada edisi terakhirnya baru mencatat kira-kira 78.000 lema. Bukan tidak mungkin di masa depan orang akan berkata "Menurut tesaurus Eko Endarmoko,…" sebagaimana pernah terjadi di masa silam "Menurut kamus Poerwadarminta,…"
Secara pribadi saya harus mengatakan bahwa tesaurus ini disusun dengan sebuah sikap. Lama saya merasa sendiri punya pendirian di negeri ini bahwa kata pimpinan tidak boleh disinonimkan dengan pemimpin. Tesaurus ini menjadi sobat dalam konteks ini. Ia membedakan pimpinan dengan pemimpin meski hampir semua orang Indonesia, termasuk para pakar bahasa, menyamakan keduanya.
Pada halaman 477, pemimpin bersinonim dengan 1. atasan, bos, kepala, ketua, komandan, koordinator, majikan, master, sep,; 2. imam, manggala, panglima, pemuka, presiden, rais, zaim,; direksi, pengurus (badan usaha); 3. pelopor, penganjur, perintis, pionir. Adapun pimpinan bersinonim dengan arahan, bimbingan, didikan. Syukurlah!
Tesaurus ini seharusnya disambut baik oleh setiap penulis profesional, entah itu sastrawan, wartawan, entah ilmuwan. Akan tetapi, sungguh saya tidak tahu apakah wartawan Indonesia mengerti bahwa karya semacam ini akan membantu mereka terhindar dari bahasa-bahasa birokrat, ungkapan-ungkapan klise, dan kata-kata yang sudah kehilangan daya yang selama ini menumpulkan laporan-laporan mereka. Selamat datang Tesaurus Bahasa Indonesia! (SALOMO SIMANUNGKALIT)
Sumber KOMPAS 15 Januari 2007