![]()
Festival Enam Pekan Perempuan Salihara
Memperingati Women’s International Day dan Hari Kartini, Komunitas Salihara akan menyelenggarakan beberapa kegiatan seputar perempuan. Acara ini bernama “Festival Enam Pekan Perempuan”. Kegiatan Festival ini terdiri dari: festival internasional untuk film-film perempuan, pementasan musik dan tari, pameran seni rupa dari perupa-perupa perempuan, pembacaan karya-karya sastra perempuan dan diskusi buku. Acara ini akan berlangsung selama enam pekan: dari bulan Maret hingga April 2009.
Festival Enam Pekan Perempuan Salihara
(Festival Film, Musik, Tari, Sastra, Seni Rupa, dan Diskusi)
Gathik Glindhing berkisah tentang perasaan ketersisihan dan keterbuangan generasi lama ketika generasi baru masuk ke dalam lingkup hidupnya. Menggambarkan kesepian hebat yang dialami setiap pribadi tatkala terbuang dari ikatan sosialnya. Dengan memilih keterasingan perempuan sebagai tema utama, pertunjukan ini akan menghadirkan lima perempuan dari lintas generasi. Mereka tengah dilanda kerinduan, kesepian, dikekang hasrat, nafsu, dan keserakahan. Semua emosi manusiawi ini sengaja dipantulkan ke khalayak untuk merefleksikan kehidupan nyata manusia.
Pementasan yang menggabungkan gaya teater modern dan tradisional, khususnya dari racikan tradisi Jawa, ini menyajikan dialog penuh humor segar dan tarian Jawa yang parodial. Di sini gerak, suara, dan dramaturgi terpadu menciptakan harmoni. Berbagai simbol dirayakan untuk merangsang penonton memberikan tafsir tersendiri. Selain bebunyian yang dihasilkan dari gamelan maupun alat ucap, semacam akapela, aneka parikan (pantun Jawa) yang lucu akan memberi kesegaran lebih pada pertunjukan ini.
Sahita merupakan sebuah kelompok teater tari yang beranggotakan lima orang perempuan. Dibentuk tahun 2001 dengan dasar tari, teater dan kemampuan vokal yang baik, Sahita bisa dibilang sangat produktif berkarya, dengan respon yang sangat baik di lingkungan seni pertunjukan maupun masyarakat umum. Berbagai persoalan dari hal-hal yang sederhana serta keseharian yang diangkat mampunya menjadi fenomena yang universal dan aktual. Selain memproduksi karya sendiri, Sahita juga aktif mendukung dan mengikuti berbagai lokakarya dan pertunjukan bersama kelompok kesenian lain, baik dari dalam maupun luar negeri.
Pameran dirancang atas sebuah pengamatan beberapa tahun belakangan, di mana karya-karya perupa perempuan mengalami dinamika luar biasa, dan menjadi perhatian penting media massa yang belum terjadi pada masa sebelumnya. Acara atau forum ini, mencoba menggambarkan sedikit banyak realitas tersebut.
Pameran menampilkan lukisan, patung, obyek, dan instalasi, karya-karya sembilan perupa; Ai Tjoe Christine, Ayu Arista Murti, Arahmaiani, Astari, Dolorosa Sinaga, Yani Mariani, Mella Jaarsma, Tere, Wara Anindyah dan Titarubi, yang kurang lebih dalam kurun satu dekade ini karya-karyanya banyak diperbincangkan. Bersama pameran ini kami juga mengundang sejumlah penulis perempuan berlatar; jurnalis, novelis, aktivis, esais, kurator, untuk menulis dari pelbagai sudut mengenai karya-karya yang dipamerkan.
Prosa dan puisi karya perempuan-sastrawan Indonesia mutakhir memperlihatkan corak penulisan yang kian beragam dan mutu yang kian mantap. Tak sedikit di antara mereka yang sepenuhnya berkutat di dunia tulis-menulis, terus melahirkan karya demi karya. Beberapa di antara mereka bahkan membuat sejumlah terobosan yang terbilang langka dalam almanak sastra Indonesia. Ada pula yang bergerak menggalang kegiatan baca-tulis dan penerbitan sastra yang terus memperluas jaringannya. Dalam rangkaian acara Enam Pekan Perempuan, selama dua malam Komunitas Salihara akan menggelar pembacaan karya sepuluh perempuan-sastrawan Indonesia mutakhir. Mereka adalah: Abidah El-Khalieqy, Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, Helvy Tiana Rosa, Inggit Putria Marga, Linda Christanty, Nenden Lilis A, Nukila Amal, dan Oka Rusmini. Dengan kecenderungan dan pencapaian masing-masing, para sastrawan ini membuktikan bahwa karya mereka telah berbicara dengan fasih dan nafas yang panjang kepada khalayak pembaca sastra kita.
Serat Centhini adalah mahakarya sastra Jawa abad ke-19. Centhini dalam cetakan aslinya memiliki 4200 halaman, 722 tembang, 2000 bait dalam 12 jilid. Kitab ini memuat dongeng, kearifan lokal, sejarah, doktrin agama, erotisme, seksualitas, dan kesenian yang tersebar luas dan diyakini masyarakat pada waktu itu yang kemudian dikumpulan oleh para sastrawan Keraton. Namun, karya agung ini, lebih banyak dicurigai daripada dikaji, disebut buku cabul yang merekam praktik dan moral tak luhur. Tak banyak diketahui, seorang tokoh Masyumi dan cendikiawan muslim HM Rasjidi memperoleh gelar doktor dari Universitas Sorbonne Prancis dengan disertasinya tentang Centhini, “Considerations critique du Livre de Centhini” (Pertimbangan kritis tentang Centhini). Melaluinya seorang sastrawan Prancis Elizabeth D. Inandiak mengenal Serat Centhini dan dengan tekun mempelajarinya selama bertahun-tahun. Selanjutnya Inandiak menyadur Serat Centhini: menafsir, meringkas, menambahkan dengan khazanah sastra yang lain: potongan sajak Victor Hugo dan Baudelaire, atau kutipan ajaran sufi Islam Ibn Arabî, al-Jîlî, Rumi dan menyebut karyanya yang ia terbitkan “Centhini, Kekasih yang Tersembunyi” sebagai “Centhini abad ke-21”.
Untuk itu, ikuti diskusinya dengan Elizabeth D. Inandiak, sastrawan Prancis penulis “Centhini, Kekasih yang Tersembunyi” yang akan mengulas Serat Centhini sebagai warisan karya sastra dan Dra. Junanah, MIS dosen bahasa Arab Fakultas Ilmu Agama Islam di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang akan mengulas relasi Islam dan Kejawen dalam Serat Centhini dengan moderator Nong Darol Mahmada.
"......................" Durasi: 25 Menit
Karya yang terinspirasi dari pengalaman pribadi sang koreografer dan coba dikembangkan menjadi pengalaman universal ini menggambarkan kekosongan yang terjadi pada manusia modern di tengah kehidupan kota Jakarta yang heterogen. Rutinitas kesibukan setiap hari menjadikan kita kadang melupakan apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan pribadi dan apa yang kita rasakan dalam diri kita. Benarkah kekosongan itu telah menjadi masalah besar dalam kehidupan kita? Ternyata banyak sekali orang yang mengalami kekosongan tanpa menyadarinya. Banyak pengalihan yang dilakukan demi menghindari rasa kekosongan itu. Kekosongan adalah kondisi di mana individu tidak lagi mengetahui apa yang ia inginkan dan tidak lagi memiliki kekuasaan atas apa yang terjadi dan ia alami. Kekosongan membuat individu-individu menjadi outer directed: mengarahkan diri pada orang lain demi mencari pegangan dan petunjuk dalam menentukan hidup. Namun, jika kita lelah akan rasa ketergantungan itu dan ingin berdiri sendiri, masihkah kita punya kuasa atas apa yang kita alami dan hadapi?
Its Me Durasi : 15 Menit
Karya ini terinspirasi oleh kehidupan remaja perempuan di kota metropolitan. Mereka menjalani pertumbuhan menjadi perempuan dewasa dengan tidak mudah. Di balik gaya hidup yang metropolis, banyak masalah yang dapat muncul, terutama dari keluarga dan bagaimana penyelesaiannya terpulang pada diri masing-masing.
Pemusik: Aip, Penata Artistik: Iskandar Loedin, Penata Lampu : Irwan "Derai" Setiadi.
Three Sisters adalah karya dari Pappa TARAHUMARA—grup tari-teater kontemporer—yang mengadaptasi karya klasik Anton Chekov untuk konteks perkampungan Jepang di tahun 1960-an. Karya ini tampaknya menggambarkan secara manis tiga perempuan bersaudara yang bergulat dengan kebosanan dalam menghadapi lika liku keperempuanan untuk sebuah meditasi sensual dan tanggung jawab dalam identitas perempuan, bertambahnya usia, dan obsesi orang-orang jepang terhadap budaya remaja. Ini tragedi komik eksentrik yang dinarasikan lewat tarian dinamis, yang merupakan sebuah pilihan padat yang sangat kuat untuk karya dari grup yang berskala luas dan multidisiplin.
Pappa TARAHUMARA adalah sebuah grup seni pementasan yang didirikan dengan pimpinan Hiroshi Koike pada tahun 1982 di Jepang. Yang membuat Pappa TARAHUMARA terlihat lebih istimewa dan hebat dari grup teater lainnya adalah fleksibilitas mereka dan metode sinergis dalam proses kreatifnya. Mereka akan menggunakan tarian, permainan, musik, dan seni sebagai pertunjukan seni teater, dan mendatangkan banyak penonton dan diakui secara internasional. Pappa TARAHUMARA telah menghimpun banyak artis berbakat untuk mencipta sebuah karya hebat setiap tahun. dan setiap karya menampilkan persepsi tentang dunia sutradaranya sendiri.
Sutradara/Koreografer: Hiroshi KOIKE, Musik: Junichi MATSUMOTO, Pemain Figuran: Yuriko YAMAGUCHI, Kostum: Misuzu KUBOZONO, Penari: Sachiko SHIRAI, Makie SEKIGUCHI, Mao ARATA
Dalam dekade terakhir dunia perfilman di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sutradara-sutradara perempuan seperti Nia Dinata, Nan T Achnas, dll yang mampu mengeksplorasi isu perempuan dengan lebih popular ke layar lebar. Dengan berkembangnya ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap film dengan tema isu perempuan, maka kami berinisiatif menyelenggarakan Festival Film Perempuan Internasional yang pertama, sebagai suatu ajang penting di mana masyarakat bisa menikmati karya sineas perempuan dari seluruh dunia bertutur dan bercerita tentang persoalan perempuan.
Festival Film Perempuan ini adalah inisiatif kerja bersama antara Kalyanashira Foundation, Jurnal Perempuan, Kartini Asia Network dan Komunitas Salihara. Selain pemutaran 10-12 film yang berasal dari Indonesia dan luar negeri (Malaysia, Jerman, Perancis, Amerika, Azerbaijan, Ukraina, Georgia, dan Lithuania), Festival Film Perempuan ini juga akan mengadakan program-program yang terkait, seperti lecture tentang “Feminist Theory & Film” bersama David Hanan, Wendy Hasleem, Sita Ari Purnami, serta Veronika Kusuma dan “Youth & Sexuality” bersama Ukke Kosasih, Kartini Asia Network dan Workshop “Film Production with Gender Perspective” bersama Nia Dinata, Abduh Aziz, Myra Diarsi.
| Alamat | : | Jl.Salihara No.16 Pasar Minggu Jakarta Selatan 12520 |
| No. Telepon | : | 021 789 1202 ext. 303 (Rama) |
| Fax | : | 021 781 8849 |
| : | rama@salihara.org | |
| URL | : | www.salihara.org |